Pendidikan untuk Rakyat dan Problematika Imperialisme Pendidikan
(Oleh : Asrul Nasution, S.Pd )
--------------------------------------------------------------------------------
Sebagai sebuah realitas yang tidak dapat ditawar-tawar, pendidikan memiliki peran yang teramat urgen bagi perkembangan pribadi manusia.
Keterbelakangan Pendidikan Rakyat
Pendidikan berakar dari kata didik yang berarti mengarahkan ataupun membimbing. Segala upaya yang diarahkan untuk mendidik ataupun membimbing seseorang merupakan bahagian dari upaya pendidikan. Senapas dengan itu pendidikan tidak lepas dari beberapa komponen yang satu sama lain saling bertautan, jika satu dari mereka tidak ada maka proses pendidikan tidak akan mungkin terjadi.
Komponen tersebut adalah: Pendidik dan peserta didik. Komponen tersebut merupakan bagian yang paling fundamen dari sebuah proses pendidikan. Seorang pendidik bertugas mengarahkan dan mentransformasi pengetahuan yang dimilikinya kepada peserta didiknya, guna mengarahkannya mencapai sesuatu yang bermakna. Dalam kaitan itu seorang pendidik dituntut untuk memiliki kualifikasi dan kompetensi akademis yang memadai.
Dalam Permendiknas Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dalam Pasal 28 disebutkan bahwa, pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki tujuan pendidikan. Lebih lanjut dalam Pasal 30 dijelaskan, seorang pendidik harus memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran, kompetensi tersebut meliputi, kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi propfesional dan kompetensi sosial (UU NO 20 tahun 2003).
Selaras dengan itu seorang Pendidik juga memiliki tanggung jawab yang cukup besar untuk mengetahui sejauh mana anak didiknya bersikap dan berafiliasi dengan teman-temannya yang lain, dalam hal ini aspek Afektif menjadi harga mati dari sebuah proses pendidikan. walapun tetap harus memperhatikan ranah Kognitif dan Psikomotoriknya. Walaupun dalam prakteknya sering terjadi antithesis dalam wilayah Afektif dan Kognitif, yang terjadi adalah pendidik seolah-olah menjadi orang yang paling berkuasa di kelasnya, komunikasi timbal balik tidak berjalan sebagaimana mestinya, penekanan aspek verbal menjadi tuntutan pendidik. Sehingga pencapaian Assessment hanya dilihat dari aspek skor dan nilai dari peserta didik.
Hal tersebut secara tidak langsung akan mematikan kreatifitas peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Perlu untuk digarisbawahi bahwa setiap peserta didik memiliki potensi alamiah yang berbeda-beda yang jika dipaksakan terhadap sesuatu hal akan mengganggu kejiwaannya. Artinya adalah memberikan mereka kebebasan untuk berkreatifitas dan menunjukan kemampuan terbaiknya merupakan uregensi seorang pendidik.
Sejatinya, seorang pendidik mengarahkan peserta didik untuk lebih mengeksplorasi aspek afektifnya. Pembinaan mental dan sikap merupakan peran utama seorang pendidik yang harus benar-benar berfungsi dengan baik. Sehingga peserta didik akan tumbuh menjadi manusia yang sadar nilai dan mampu menempatkan dirinya sebagai makhluk Tuhan yang Agung yang tidak berbuat sesuka hati dan menempatkan nilai dan moral di atas segalanya.
Sarana dan Prasana Pendidikan. Tidak berbeda dengan komponen yang telah disebutkan di atas komponen ini juga teramat urgen dalam upaya mengembangkan proses pendidikan. Hal tersebut menyangkut dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik (UU No 20 tahun 2003).
Tanpa adanya sarana dan prasarana yang baik maka upaya pengembangan pendidikan tidak akan terjadi sebagaimana mestinya. Hal ini dapat terlihat ketika pasca Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh. Berapa banyak Sekolah yang hancur dan berapa banyak sarana dan prasarana pendidikan yang hilang dan rusak parah.
Akibatnya para siswa tidak dapat melaksanakan proses pendidikan sebagaiamana mestinya kalaupun harus dipaksakan mereka hanya bisa bersekolah di tenda-tenda darurat ataupun di gedung-gedung sekolah yang sangat tidak layak. Hasilnya adalah ketika terjadi UAN pada tahun 2006 banyak dari anak-anak Aceh yang tidak lulus pada Ujian Akhir Nasional.
Tidak hanya itu Gempa Bumi dan Tsunami Aceh juga berimbas kepada anak-anak Aceh yang kian terganggu mental dan kejiwaannya, diakibatkan stress maupun trauma yang berkepanjangan padahal potensi intelektual, emosionl dan kejiwaan merupakan potensi sarana dan prasarana yang sangat esensi bagi proses-proses pendidikan.
Komponen tersebut di atas merupakan hal yang sangat asasi bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Itu harus menjadi perhatian pemerintah jika tetap ingin mengembangkan dunia pendidikan di negara ini. Walaupun harus diakui secar jujur bahwa kian hari dunia pendidikan kita nyaris semakin tertinggal. Hal ini dibuktikan dengan jelas bagaimana mutu SDM Indonesia yang jauh dari harapan seperti dilaporkan oleh studi UNDP tahun 2000 yang menyatakan bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia menempati urutan ke 109 dari 174 negara atau data tahun 2001 menempati urutan ke 102 dari 162 negara.
Hal tersebut semakin diperparah dengan tingkat kemiskinan yang semakin mengelembung, kehidupan masyarakat kumuh yang berbaris semraut di pinggiran sungai malah semakin menggeliat. Di beberapa daerah malah terkuak anak-anak Balita yang menderita busung lapar, kelaparan terjadi di beberapa daerah, bahkan beberapap penyakit menular juga bertubi-tubi menyerang bangsa ini. Masyarakat semakin terperosok jauh ke belakang untuk kemudian meratap sedih terhadap sanak kelurga mereka yang tak berdaya. Alih-alih untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, untuk menghidupi keluarga saja mereka tidak sanggup lagi.
Dan inilah yang terjadi hari ini, betapa tidak pendidikan seyogianya menjadi milik seluruh warga
masyarakat tanpa terkecuali, malah seperti perjalanan panjang yang tanpa garis finish.
Imperialisme Pendidikan
Pasca Revolusi Prancis, Inggris dan beberapa negara Eropa, istilah pembaharuan semakin sering terdengar. Istilah semacam aufklarung, renessaince, revolusi bahkan istilah imperialisme merupakan istilah yang cukup populer di mata bangsa barat. Bahkan kata-kata tersebut menjadi simbol pada setiap pergerakan dan aksi-aksi mereka (baca: barat). Salah satu istilah yang cukup populer adalah imperialisme. Istilah imperialisme merupakan istilah yang digunakan untuk melakukan penjajahan ataupun suatu usaha untuk melakukan penyerangan baik dalam bentuk sosial, budaya, politik, militer, ataupun pendidikan terhadap
wilayah yang dianggap sebagai objek lawan. Intinya adalah mempengaruhi, merusak, menjajakan, serta
menjajah negara lain adalah kata kunci imperialisme.
Imperialisme Pendidikan yang terjadi di negara ini bukanlah barang baru. Jauh-jauh hari bentuk penjajahan ini telah berlangsung lama dan rapi. Bangsa ini dihadapkan pada wajah dunia yang harus
diikuti dan dituruti. Pendidikan seolah-olah milik mereka yang berkuasa, pendidikan seolah-olah hanya milik mereka yang berlatar belakang kaya. Hal ini sejalan dengan ungkapan Fakih Mansour "Pendidikan tidak mungkin dan tidak bisa bersikap netral, objektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran aliran positivisme". (Fakih Mansour, 1999:22).
Besarnya biaya pendidikan dari mulai tingkat pendidikan dasar, menegah sampai perguruan tinggi begitu sungguh mengagumkan. Bayangkan saja untuk masuk ke sekolah dasar yang cukup ternama orang-orang tua siswa dipungut beberapa juta rupiah, itu yang terjadi ketika setiap kali tahun ajaran baru dimulai. Begitu juga, kenaikan biaya pendidikan tinggi (perguruan tinggi) juga tidak main-main. Di privatisasinya beberapa perguruan tinggi terkemuka semakin menjadi momok dan monster yang menyeramkan bagi para anak-anak bangsa ini yang hendak mengeyam ke jenjang pendidikan tinggi.
Istilah privatisasi perguruan tinggi merupakan hal yang baru bergulir satu dasarwarsa terakhir ini. Beberapa perguruan tinggi ternama, semisal UI, UGM, ITB, UNPAD, USU dan beberapa perguruan tinggi lainnya resmi menyatakan siap di-privatisasi, dan berubah statusnya menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara). Bahkan untuk beberapa jurusan terkemuka semisal, kedokteran pihak rektorat dengan berani mematokan sekian ratus juta untuk dapat diterima jika memang mereka benar-benar dari keluarga berada namun secara kemampuan kognitif tidak sanggup memasukinya.
Digulirkannya privatisasi perguruan tinggi negeri cukup mendapat respon yang marak dari kalangan mahasiswa, demonstrasi terjadi dimana-mana untuk menolak kebijakan itu. Namun apa lacur, pemerintah tetap memprivatisasi perguruan tinggi yang dianggap mapan dengan beberapa alasan, di antara alasan-alasan itu adalah agar perguruan tinggi baik Dosen-dosen dan aparat Kampus semakin profesional karena dalam hal ini pihak rektorat dapat kapan saja untuk memberhentikan dosen-dosen yang tidak berkualitas.
Hal ini juga ditengarai untuk menghapuskan subsidi pemerintah terhadap perguruan tinggi. Artinya perguruan tinggi harus mampu untuk mencari dan mengembangkan keprofesionalannya sendiri tanpa harus mengemis kepada Pemerintah.
Kebijakan privatiasi tersebut seolah-olah menjadi solusi dan jawaban terhadap sekian persoalan pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Namun secepat itukah. Sudah layakkah beberapa perguruan tinggi negeri tersebut diprivatisasi. Apapun itu, bola telah menggelinding, aksi telah dilakukan, privatisasi telah terjadi. Lihat berapa banyak anak-anak pintar dan cerdas di negeri ini, dikarenakan tidak memiliki cukup dana terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengambil jurusan kedokteran ataupun jurusan bergengsi lainnya.
Pendidikan Untuk Rakyat
Pendidikan memanusiakan kembali manusia dari dehumanisasi struktural dan sistem sosial yang menindas. Begitulah ungkapan Paulo Freire yang hingga kini tidak akan pernah terlupakan. Pendidikan harus mampu menjadi penyelamat manusia dari ketertindasan, kemiskinan, kemelaratan dan marginalisasi.
Upaya untuk memanusiakan manusia merupakan segmen utama dari pendidikan. Dalam UU tentang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, pada Pasal 5 dijelaskan, "bahwa setiap Warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu". Itu artinya setiap anak bangsa di negeri ini memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan tanpa melihat latar belakang kehidupannya.
Dengan pendidikan manusia hina menjadi bermartabat, bahkan dengan pendidikan orang-orang jahiliyah di masa Rasul Muhammad SAW, menjadi mulia. Hal itu tidak lepas dari didikan Muhammad SAW terhadap kondisi masyarakat Quraisy yang sangat Jahiliyah. Berawal dari sebuah rumah sederhana milik sahabat Nabi bernama Arkam inilah proses tarbiyah dimulai. Hasilnya adalah betapa dari didikan Rasul, Muhammad SAW ini bermunculan orang-orang besar yang kemudian membesarkan Islam sampai ke penjuru Jazirab Arabiah dan Eropa.
Realitas pendidikan yang kian mensubordinasi dan memarginalisasi masyarakat merupakan ancaman terhadap demokratisasi dan tujuan pendidikan. Sejatinya, masyarakat dapat mengeyam pendidikan sama dengan masyarakat mampu yang lain dikarenakan pendidikan merupakan hak seluruh warga masyarakat. Kalaulah bangsa ini hendak bercermin, bangsa Jerman dapat menjadi sampel bagaimana mereka mampu mengelola pendidikan gratis di negara itu. Walaupun gratis namun dalam tataran kualitas tidak perlu diragukan lagi. Kalaupun upaya untuk menggratiskan seluruh tingkatan pendidikan tidaklah mungkin, minimal pada jenjang pendidikan dasar tidak dipungut biaya (UU NO 20 tahun 2003).
Sudah saatnya pemerintah dan orang-orang yang berkompeten di bidang ini melihat hal itu, memikirkan kembali pendidikan rakyat yang kian terpuruk. Potensi penduduk negara ini yang cukup besar merupakan sumber daya yang sangat potensial untuk mensuplai orang-orang yang berkualitas. Ragam cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan anak rakyat ini dari kebodohan, ketertindasan, bahkan kejahiliyahan
struktrual yang kian menggelayut. Yang terpenting adalah kesungguhan pemerintah dan kearifan penguasa negeri ini untuk tidak melihat mereka semakin tertindas.***
KHUTBAH IDUL ADHA
Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah.
Di pagi hari ini, setelah kaum muslimin sedunia yang berkesempatan menunaikan Ibadah Haji tahun ini melakukan wukuf di Arafah, kita pun berkumpul di sini, menjadi saksi akan Kemahakuasaan Allah Azza Wajalla.
Terbitnya mentari, bertiupnya angin, berkicaunya burung-burung, bergeseknya ranting dan dedaunan berpadu dengan lantuan takbir, tahmid dan tahlil yang membahana, memenuhi rongga jiwa, menggetarkan sukma dan sanubari manusia-manusia beriman.
Kita bisa bermacam-macam rupa, warna, bahasa, dan bangsa. Namun, ada satu yang menyatukan kita semua, yaitu iman, yang berarti tauhid dan akidah.
Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Ma’asyiralMuslimin Rahimakumullah,
Ada sosok pribadi yang selalu menjadi kenangan manis dalam sejarah tauhid. Sosok yang telah mengukir pahatan terindah bagaimana seorang hamba memaknai kata “berkorban”. Seorang yang Allah telah saring ia dan dari keturunannya untuk menjadi manusia-manusia terbaik dari sejarah kemanusiaan dan sejarah keimanan. Dialah Ibrahim ‘Alaihisshalatu Wassalam.
Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آَدَمَ وَنُوحًا وَآَلَ إِبْرَاهِيمَ وَآَلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 33-34)
Momen-momen fenomenal berkorban dalam pengabdian pada Sang Ilahi menjadikannya pribadi panutan sepanjang zaman. Bahkan Allah pun mensyari’atkan Ibadah Qurban yang penuh makna dan hikmah melalui seorang keturunan terbaiknya, Nabi kita tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Ikhwanul Muslimin Hafizhakumullah,
Semoga Allah senantiasa menjaga anda sekalian,
Semangat ber-qurban, pada intinya, adalah semangat bertauhid, semangat pengabdian dan penyembahan kepada Allah Azza Wajalla. Semangat inilah yang memberi arti pada semua bentuk ibadah dan pengamalan keislaman kita. Tanpa semangat bertauhid, maka semua ibadah dan pengamalan itu menjadi tidak berarti.
Semangat bertauhid ini pula yang menuntut para pengusungnya untuk memutuskan segala rantai dan belenggu kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman, dan sekali lagi Ibrahim Alaihisshalatu Wassalam yang menjadi contoh,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Seseungguhnya telah ada suri tauladan yang yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia: ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ’’Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah ….’’ (QS. Al Mumtahanah: 4)
Demikianlah adanya tauhid itu, dimana dia tidak akan terwujud dalam arti kata sebenarnya kecuali dengan meninggalkan segala macam bentuk kesyirikan dan penyembahan kepada selain Allah. Dan jika hal itu dapat direalisasikan, maka seperti kata Allah dalam Al Qur’an,
قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
”… Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thogut (segala yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi maha Mengetahui.” (QS.Al Baqarah:256)
Kekhawatiran dan kewaspadaan terhadap kesyirikan adalah suatu yang mutlak ada pada diri setiap orang beriman. Karena virus-virus kesyirikan inilah yang paling berbahaya dalam kehidupan seorang anak manusia. Menyadari hal ini, Ibrahim Alaihisshalatu Wassalam, dan sekali lagi Ibrahim, pernah berdoa dan doa itu diabadikan oleh Allah dalam Al Qur’an, firman-Nya,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
‘’…dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala’’ (QS. Ibrahim: 35)
Kesyirikan, dalam berbagai bentuk dan ragamnya, harus kita jauhi. Kita tutup segala celah yang bisa mengantar kepadanya.
AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Hadirin Jemaah Idul Adha Yang Dirahmati Allah
Semangat ber-qurban harus menjadi pendorong yang paling kuat untuk semakin dekat dengan Allah Azza Wajalla. Bukankah arti kata Qurban sendiri adalah “sesuatu yang mendekatkan”?
Untuk semakin dengan dekat dengan Allah Azza Wajalla membutuhkan ‘’pengorbanan’’ akan banyak perkara yang justru hawa nafsu kita cenderung kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
حُفَّتِ الجَنَّةُ بالمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بالشَّهَوَاتِ
“Al Jannah (surga itu) dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disenangi (hawa nafsu), dan An Naar (neraka itu) dikelilingi oleh syahwat. (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang kita harus memilih, antara mengambil atau tidak, sesuatu yang menggiurkan secara duniawi namun berbahaya secara ukhrawi.
Kadang kita harus memilih, antara sistem riba yang “bunganya” menggiurkan dengan sistem muamalah syari’ah yang dianggap oleh orang tidak paham sebagai sistem yang sulit diterapkan. Padahal, sistem perbankan syari’ah justru terbukti tahan gempuran ketika badai krisis moneter malanda negeri ini, yang pada saat yang sama, bank-bank yang menerapkan riba banyak yang terkapar.
Kadang kita harus memilih, antara adat kebiasaan yang bertentangan dengan syari’at Islam dengan ajaran syari’at yang mulia ini.
Kadang kita harus memilih, antara pergaulan bebas yang menyenangkan hawa nafsu kita dengan sistem akhlak Islami.
Pilihan itu akan semakin sulit manakala kita tidak memiliki semangat berkorban. Semangat mengorbankan hawa nafsu dan kecenderungan negatif yang mungkin secara lahiriah menyenangkan, namun sesungguhnya, ia adalah kesengsaraan yang sejati.
فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ
حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“… Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang) mukmin seraya berkata: ’Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?’ Mereka menjawab: ’Benar, tetapi kalian telah mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami), dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah. Dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (syaithan) yang amat penipu.’’ (QS. Al Hadid: 13-14)
Apalagi akhir-akhir ini kita dihadapkan pada Krisis global yang melanda dunia hari ini begitu sangat dirasakan, khususnya oleh kaum muslimin di tanah persada ini. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Kehidupan begitu susah dan sempit. Apalagi, krisis global yang menerpa dunia ini bersamaan dengan rentetan musibah alam yang datang silih berganti, banjir, tanah longsor, gempa bumi, wabah penyakit, dan lain sebagainya, yang setiap hari menghiasi lembaran-lembaran berita bangsa ini.
Dan tentunya, kita sebagai seorang muslim yakin, bahwa krisis multidemensi serta beragam musibah yang mendera dunia dan khususnya bangsa ini, merupakan buah dari perbuatan tangan manusia–manusia yang jauh dari syariat Ilahi. Praktek sistem ekonomi riba, kekufuran, kemaksiatan, dan dosa-dosa lainnya, seluruhnya akan mendatangkan murka dan azab dari Allah Swt.
Demikian pula, kelemahan iman dan jauhnya kaum muslimin dari syariat agama Allah begitu sangat nyata. Kaum muslimin telah lama terlena oleh kehidupan dunia, meninggalkan tugas dan kewajiban agamanya, tenggelam dalam aturan-aturan buatan manusia yang hakikatnya adalah penentangan terhadap syariat Allah subhanahu wa ta'ala. Serta terpedaya oleh gelombang arus pemikiran dan paham sesat yang menggerogoti ajaran agama yang murni ini dari dalam.
Semoga Allah menjaga kita dari tipuan dan godaan syaithan dan para pengikutnya yang mencoba untuk menciptakan pemikiran-pemikiran sesat yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam atas nama keberagaman, tapi pada hakekatnya merupakan upaya menikam dan menghancurkan Islam dari dalam.
.
AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Kaum Muslimin yang dikasihi Allah,
Semangat ber-qurban, juga menjadi semangat pembebasan dari belenggu harta dan materi.
Benar, bahwa harta dan materi perlu dan sebagai penunjang kehidupan kita. Namun, jangan sampai harta dan materi itu menguasai hati dan qalbu kita. Harta dan materi seharusnya tergenggam pada tangan kita, dan bukannya mencengkram dan menguasai hati kita.
Ketahuilah, wahai kaum Muslimin yang berbahagia, bahwa harta sesungguhnya yang kita miliki adalah yang kita ”korbankan” di jalan Allah.
Di berbagai sisi perjuangan Islam ini, masih terdapat peluang bagi para pejuang untuk berinfak, memberi sebagian dari apa yang Allah karuniakan pada mereka. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT menjelaskan.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian megetahuinya.” (QS. Ash Shaf: 10-11)
Semangat inilah yang menggelora pada jiwa para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Sehingga jika mereka tidak memiliki harta untuk disumbangkan dalam jihad menegakkan dienullah, mereka bersedih hati.
تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ
“… mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang bisa mereka infakkan.’’ (QS. At Taubah: 92)
AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Hadirin Jemaah Idul Adha Yang Dirahmati Allah
Ternyata, ”memberi’’ dan ”berinfak” bukan hanya dengan harta. Namun menginfakkan hati kita, dengan membuka pintu maaf bagi sesama kaum muslimin, adalah pemberian yang luar biasa.
Abu Bakar Ash Shiddiq Radhilallahu ’Anhu, menjadi teladan dalam perkara yang tidak mudah ini. Ketika seorang kerabatnya yang selama ini selalu dibantunya, ternyata, ketika angin fitnah berhembus menimpa anak yang sangat dikasihinya, Aisyah Rahdiallahu ’Anha, justru kerabat tersebut terlibat menyebarkan berita dusta dan fitnah itu. Respon manusiawi Abu Bakar Radhilallahu ’Anhu, adalah dengan menghentikan bantuannya.
Pada saat untaian ayat-ayat Al Qur’an pada Surah An Nur turun, yang dengan tegas membersihkan nama Aisyah Radhiallahu ’Anha dari fitnah yang keji itu, Allah pun mengiringinya dengan ajakan untuk memaafkan dan melanjutkan bantuan yang sempat terputus itu,
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’’ (QS. An Nur: 22)
Mendengar ayat ini, serta merta Abu Bakar berkata, ”Bahkan kami mau demi Engkau, ya Allah, agar Engkau mengampuni kami.”
Kemudian beliau bukan hanya memaafkan orang tersebut, bahkan beliau melanjutkan bantuan yang sempat terputus itu. Alangkah mulianya seorang Abu Bakar yang mengumpulkan antara kelapangan dada dan kedermawanan.
AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Umat Islam yang berbahagia, Dan secara khusus, kaum Muslimah yang dirahmati Allah,
Jangan sampai Anda menjadi korban pemikiran dan akhlak yang menyimpang atau menjadi korban ”mode”. Anda wahai para Muslimah jangan sampai terperosok dalam lembah kehinaan itu.
Jadilah seorang yang shalihah, mitra kaum pria menggapai ridha Allah, menjadi pendidik generasi pelopor dalam perjuangan Islam ini. Jadikan rumah Anda sebagai kandang singa-singa Allah yang selalu siap menerkam musuh. Dari tangan Anda yang halus namun tegar, kita berharap lahir generasi muda yang kuat fisik dan pemikirannya yang dapat membela Agama, bangsa dan negara yang kita cintai ini.
Dan kepada Anda wahai para Pemuda, harapan dan cita-cita kami. Masa paling berharga dari kehidupan sedang Anda nikmati. Maka nikmatilah ia dengan iman dan perjuangan menegakkannya. Jadilah seperti Ismail ‘Alaihis Salam yang selalu siap berkorban di jalan Tuhannya, walaupun nyawa adalah taruhannya.
Wahai para pemimipin negeri yang sangat luas ini, yang jarak antara ujung timur dan baratnya sama dengan jarak antara kota London dan teluk arab, takutlah kepada Allah akan pertanggungjawaban dua ratus juta lebih manusia yang ada di bawah kepemimpinan Anda. Korbankanlah ego dan ambisi pribadi Anda demi kemaslahatan rakyat. Jangan justru mengorbankan rakyat untuk memenuhi ego dan ambisi pribadi Anda.
Tidak ada kemaslahatan yang lebih berarti bagi bangsa ini dan seluruh manusia melainkan ketika mereka kembali kepada Allah ‘Azza Wajalla dan dengan ikhlas menjalankan ajaran-Nya pada seluruh sisi kehidupan.
AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Kaum muslimin yang berbahagia,
Sepulang kita ke rumah masing-masing, barangsiapa melakukan ibadah qurban hendaknya memperhatikan petunjuk-petunjuk syariat dalam pelaksanannya. Umur kambing yang disembelih minimal satu tahun. Adapun sapi, minimal dua tahun. Yang mana hewan korban tersebut tidak cacat. Semoga Allah menerima ibadah qurban kita sehingga semakin dekatlah kita kepada-Nya.
Akhirnya, marilah dengan penuh keikhlasan kita menunduk di hadapan Allah ‘Azza Wajalla untuk memohon dan meminta segala kebaikan, di dunia maupun di akhirat kelak.
Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau. Engkau telah meciptakan kami dan kami adalah hamba-hamba-Mu yang selalu berada dalam perjanjian dengan-Mu semaksimal kemampuan kami.
Kami berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan kami.
Kami akui segala nikmat yang Engkau telah keruniakan kepada kami, dan kami akui pula segala dosa kami kepada-Mu. Maka ampunilah kami, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa melainkan Engkau.
Ya Allah, kami menghadap kepada-Mu dengan segala dosa dan kehinaan kami, dan Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia. Maka ampunilah kami dan muliakanlah kami, di dunia dan di akhirat.
Ya Allah, Tuhan dari hamba-hamba-Mu yang tertindas, Engkau lebih tahu penderitaan hamba-hamba-Mu yang beriman. Terimalah ya Allah, segala penderitaan itu sebagai pengorbanan di jalan-Mu.
Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu pada negeri ini. Curahkanlah petunjuk dan hidayah-Mu untuk para pemimpin-pemimpin negeri ini, Ya Allah. Agar mereka dapat berlaku adil dan sayang pada kami. Sesungguhnya tidak ada tempat untuk mengeluhkan masalah kami kecuali pada-Mu. Ya Allah, jangan biarkan negeri ini terjajah oleh siapapun yang memusuhi-Mu.
Selanjutnya dengan penuh harapan, mari kita mohon juga pertolongan, bimbingan dan rahmat-Nya, agar kita semua mendapatkan petunjuk dari Allah swt dalam mempertahankan predikat sebagai orang-orang yang bertaqwa.
Demikianlah penyampaian khutbah shalat Idul Adha ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin....Amin ya rabbal ‘alamin. ( dikutip dari berbagai sumber)
PESAN – PESAN RAMADHAN : UPAYA MEWUJUDKAN INSAN PARIPURNA PASKA MADRASAH RAMADHAN
(Khutbah Idul Fitri 1429 H/2008 M)
ALLAHU AKBAR……(3 x) WALILLAHILHAMD
Jama'ah sholat Idul Fitri rahimakumullah
Sejak tadi malam telah berkumandang alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Rasulullah SAW bersabda:
زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر
“Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”
Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT sedangkan selain Allah semuanya kecil semata. Kalimat tasbih dan tahmid, kita tujukan untuk memuliakan Tuhan dan segenap yang berhubungan dengan-Nya.
Tidak lupa puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha kuasa. Seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.
Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar… Walillahilhamd…
Jamaah Idul Fitri rahimakumullah
Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi:
اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِى كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
Artinya: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajikan dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. Sesorang kemudian berseru: 'Wahai umat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berkata: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.”
Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar… Walillahilhamd…
Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia
Seiring dengan berlalunya Bulan suci Ramadhan. Banyak pelajaran hukum dan hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat kita petik untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika bisa diibaratkan, Ramadhan adalah sebuah madrasah. Sebab 12 jam x 30 hari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, semula sesuatu yang halal menjadi haram. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram.
Sementara dari aspek sosial, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar. Oleh karena itu, ada tiga pesan pesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama guna mewujudkan Insan Paripurna Paska Ramadhan ini. Pesan – pesan Ramadhan itu adalah :
Pesan pertama Ramadhan adalah Pesan moral
Atau Tahdzibun Nafsi
Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adalah naluri Syahwat.
Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan. Pertama, sifat kebinatangan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, sifat buas (سَبُعِيَّةْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar. ketiga sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia.
Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat mengkhawatirkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan Dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya dan seterusnya.
Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan. Orang yang dapat dengan baik mengoptimalkan sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur'an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, paska Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya: menahan diri dari hawa nafsu, memberi ma`af dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah:
وَاللهُ يُحِبُّ اْ لمُحْسِنِيْنََ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظ
"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran: 134)
ALLAHU AKBAR……(3 x) WALILLAHILHAMD
Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia
Pesan kedua adalah pesan sosial
Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan indah indah justru pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal. Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya sebab كُلُّكُمْ عِيَالُ اللهِ , kalian semua adalah umat Allah.
Dalam kesempatan ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis yang diriwayatkan oleh Qurthubi:
ِ رَأَيْت مِنْ اُمَّتِى يَتَّقِى وَهَجَ النَّارَ وَشِرَرَهَا بِيَدِهِ عَنْ وَجْهِهِ فَجَائَتْ صَدَقَتُهُ اِنّىرَأَيْتُ اْلبَارِحَةَ ً
ْفَصَارَتْ سِتْرًا مِنالنَّار
Artinya: "Aku semalam bermimpi melihat kejadian yang menakjubkan. Aku melihat sebagian dari umatku sedang melindungi wajahnya dari sengatan nyala api neraka. Kemudian datanglah shadaqah-nya menjadi pelindung dirinya dari api neraka."
Jama'ah sholat Idul Fitri rahimakumullah
Pesan ketiga adalah pesan jihad
Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu:
ُ وَمَا فِى وُسْعِه لِنَيْل مَا عِنْدَ رَبِّهِ مِنْ جَزِيْلِ ثَوَابِ وَالنَّجَاةِ مِن اَلِيْمِ عِقَابِهِ ْ ِ ِبَذْل مَاعِنْدَهُ
"Mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridhaannya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya."
Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar. Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa umat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai. Jihad tetap dijalankan.
Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah.
Mengingat adanya aliran Islam yang mengkampanyekan jihad dengan senjata di negara damai Indonesia ini, maka perlu untuk ditekankan lebih dalam bahwa jihad seharusnya dilandasi niat yang baik dan dipimpin oleh kepala pemerintahan, bukan oleh kelompok atau aliran tertentu. Jangan sampai mengatasnamakan kesucian agama, akan tetapi tidak bisa memberikan garansi bagi kemaslahatan umat Islam. Islam haruslah didesain dan bergerak pada kemaslahatan masyarakat demi mencapai keridhaan Allah dan kemajuan umat. Pengalaman pahit salah mengartikan jihad menjadikan Islam dipandang sebagai agama teroris. Padahal Islam sebenarnya adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin), agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kedamaian.
Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan adalah upaya mendukung terbangunnya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera yang bersendikan pada ketaatan kepada Allah. Jihad untuk mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain.
Jama`ah Sholat Idul Fitri rahimakumullah
رُوِى بَعْضَ الصَّحَابَةِ قَالُوْا يَا نَبِيَّ اللهِ قَالُوْا يَا نَبِيَّ لَوَدَدْنَا اَنْ نَعْلَمَ اَيَّ التِّجَارَة اَحَبُّ اِلَى اللهِ فِيْهَا فَنُزِلَتْ:
ْ ِ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ َ يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِاَمْوَالِكُم وَاَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِن كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ . يَغْفِرْ لَكُم ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ اْلفَوْزاْلعَظِيْم
"Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat mendatangi Rasulullah. Ketika berjumpa, salah seorang dari mereka berkata: "Wahai Nabi Allah, kami ingin sekali mengetahui bisnis apa yang paling dicintai oleh Allah agar kami bisa menjadikannya sebagai bisnis kami". Kemudian diturunkan ayat:
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (QS Ash-Shaff:10-12)
Dalam konteks sosial masyarakat kita saat ini, dimana masih banyak sektor sosial yang perlu pembenahan lebih lanjut. Maka makna jihad harus mengacu pada pengentasan masalah-masalah sosial. Oleh sebab itu, sudah selayaknya pada momentum lebaran saat ini, bukan hanya pakaian yang baru akan tetapi gagasan-gagasan baru juga harus dikedepankan untuk mengentaskan masalah-masalah sosial yang selama ini membelenggu kemajuan umat Islam Indonesia pada khususnya dan bangsa dan negara Indonesia pada umumnya.
Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar… Walillahilhamd…
Jama'ah Sholat Idul Fithri rahimakumullah
Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata sehingga Insan paripurna yang kita cita-citakan dapat terwujud paska Madrasah Ramadhan ini. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.
Akhirnya, marilah kita menundukkan hati kita ke hadirat Allah SWT, memohon ridha dan perkenanNya. Ya Allah, ya Tuhan kami. Engkau maha mengetahui, ya Allah terhadap kelemahan-kelemahan kami, terhadap kekurangan-kekurangan kami. Engkaulah tempat kami menyembah. Engkaulah tempat kami memohon. Ya Allah, ya Tuhan kami, kami mohon Engkau ampuni, ya Rabbi, bahwa pada waktu Engkau memberi karuniaMu, kami mungkin kurang dapat mensyukuri nikmat, namun pada waktu Engkau memberi cobaan, kami masih pula meragukan kasih sayangMu.
Ya Allah, ya Tuhan kami, berikanlah kami kekuatan serta kemampuan untuk melangkah ke depan, dimana kami akan tersesat tanpa petunjukMu, kami akan merugi tanpa ridha dan tuntunanMu. Ya Allah, ya Tuhan kami, curahilah kami dengan rahmat dan nikmatMu, sinarilah hati kami dengan cahayaMu. Berikanlah kami bimbingan untuk dapat berjalan dijalanMu. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang Engkau ridhai. Berilah kami kemampuan untuk mengikuti jalan yang lurus itu ya Allah. Ya Allah, jadikanlah kami orang-oran yang Engkau karuniai dengan keimanan dan ketaqwaan yang kokoh kepadaMu, sehingga kami mampu melawan segala tantangan dan hambatan.
Amin….Amin……Amin……….. ya Rabbal Alamin
KANTOR DEPARTEMEN AGAMA KABUPATEN NIAS MENGUCAPKAN SELAMAT HARI IDUL FITHRI 1 SYAWAL 1429 H. SEMOGA KITA SEMUA MENJADI INSAN YANG FITHRI...............
ALLHU AKBAR 3X WALILLAHILHAMD.


