KHUTBAH IDUL ADHA

Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah.

Di pagi hari ini, setelah kaum muslimin sedunia yang berkesempatan menunaikan Ibadah Haji tahun ini melakukan wukuf di Arafah, kita pun berkumpul di sini, menjadi saksi akan Kemahakuasaan Allah Azza Wajalla.
Terbitnya mentari, bertiupnya angin, berkicaunya burung-burung, bergeseknya ranting dan dedaunan berpadu dengan lantuan takbir, tahmid dan tahlil yang membahana, memenuhi rongga jiwa, menggetarkan sukma dan sanubari manusia-manusia beriman.
Kita bisa bermacam-macam rupa, warna, bahasa, dan bangsa. Namun, ada satu yang menyatukan kita semua, yaitu iman, yang berarti tauhid dan akidah.


Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Ma’asyiralMuslimin Rahimakumullah,

Ada sosok pribadi yang selalu menjadi kenangan manis dalam sejarah tauhid. Sosok yang telah mengukir pahatan terindah bagaimana seorang hamba memaknai kata “berkorban”. Seorang yang Allah telah saring ia dan dari keturunannya untuk menjadi manusia-manusia terbaik dari sejarah kemanusiaan dan sejarah keimanan. Dialah Ibrahim ‘Alaihisshalatu Wassalam.
Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آَدَمَ وَنُوحًا وَآَلَ إِبْرَاهِيمَ وَآَلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 33-34)

Momen-momen fenomenal berkorban dalam pengabdian pada Sang Ilahi menjadikannya pribadi panutan sepanjang zaman. Bahkan Allah pun mensyari’atkan Ibadah Qurban yang penuh makna dan hikmah melalui seorang keturunan terbaiknya, Nabi kita tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Ikhwanul Muslimin Hafizhakumullah,

Semoga Allah senantiasa menjaga anda sekalian,
Semangat ber-qurban, pada intinya, adalah semangat bertauhid, semangat pengabdian dan penyembahan kepada Allah Azza Wajalla. Semangat inilah yang memberi arti pada semua bentuk ibadah dan pengamalan keislaman kita. Tanpa semangat bertauhid, maka semua ibadah dan pengamalan itu menjadi tidak berarti.
Semangat bertauhid ini pula yang menuntut para pengusungnya untuk memutuskan segala rantai dan belenggu kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman, dan sekali lagi Ibrahim Alaihisshalatu Wassalam yang menjadi contoh,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Seseungguhnya telah ada suri tauladan yang yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia: ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ’’Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah ….’’ (QS. Al Mumtahanah: 4)
Demikianlah adanya tauhid itu, dimana dia tidak akan terwujud dalam arti kata sebenarnya kecuali dengan meninggalkan segala macam bentuk kesyirikan dan penyembahan kepada selain Allah. Dan jika hal itu dapat direalisasikan, maka seperti kata Allah dalam Al Qur’an,
قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

”… Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thogut (segala yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi maha Mengetahui.” (QS.Al Baqarah:256)
Kekhawatiran dan kewaspadaan terhadap kesyirikan adalah suatu yang mutlak ada pada diri setiap orang beriman. Karena virus-virus kesyirikan inilah yang paling berbahaya dalam kehidupan seorang anak manusia. Menyadari hal ini, Ibrahim Alaihisshalatu Wassalam, dan sekali lagi Ibrahim, pernah berdoa dan doa itu diabadikan oleh Allah dalam Al Qur’an, firman-Nya,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

‘’…dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala’’ (QS. Ibrahim: 35)
Kesyirikan, dalam berbagai bentuk dan ragamnya, harus kita jauhi. Kita tutup segala celah yang bisa mengantar kepadanya.

AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Hadirin Jemaah Idul Adha Yang Dirahmati Allah

Semangat ber-qurban harus menjadi pendorong yang paling kuat untuk semakin dekat dengan Allah Azza Wajalla. Bukankah arti kata Qurban sendiri adalah “sesuatu yang mendekatkan”?
Untuk semakin dengan dekat dengan Allah Azza Wajalla membutuhkan ‘’pengorbanan’’ akan banyak perkara yang justru hawa nafsu kita cenderung kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

حُفَّتِ الجَنَّةُ بالمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بالشَّهَوَاتِ

“Al Jannah (surga itu) dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disenangi (hawa nafsu), dan An Naar (neraka itu) dikelilingi oleh syahwat. (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang kita harus memilih, antara mengambil atau tidak, sesuatu yang menggiurkan secara duniawi namun berbahaya secara ukhrawi.
Kadang kita harus memilih, antara sistem riba yang “bunganya” menggiurkan dengan sistem muamalah syari’ah yang dianggap oleh orang tidak paham sebagai sistem yang sulit diterapkan. Padahal, sistem perbankan syari’ah justru terbukti tahan gempuran ketika badai krisis moneter malanda negeri ini, yang pada saat yang sama, bank-bank yang menerapkan riba banyak yang terkapar.
Kadang kita harus memilih, antara adat kebiasaan yang bertentangan dengan syari’at Islam dengan ajaran syari’at yang mulia ini.
Kadang kita harus memilih, antara pergaulan bebas yang menyenangkan hawa nafsu kita dengan sistem akhlak Islami.
Pilihan itu akan semakin sulit manakala kita tidak memiliki semangat berkorban. Semangat mengorbankan hawa nafsu dan kecenderungan negatif yang mungkin secara lahiriah menyenangkan, namun sesungguhnya, ia adalah kesengsaraan yang sejati.

فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ
حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“… Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang) mukmin seraya berkata: ’Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?’ Mereka menjawab: ’Benar, tetapi kalian telah mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami), dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah. Dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (syaithan) yang amat penipu.’’ (QS. Al Hadid: 13-14)

Apalagi akhir-akhir ini kita dihadapkan pada Krisis global yang melanda dunia hari ini begitu sangat dirasakan, khususnya oleh kaum muslimin di tanah persada ini. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Kehidupan begitu susah dan sempit. Apalagi, krisis global yang menerpa dunia ini bersamaan dengan rentetan musibah alam yang datang silih berganti, banjir, tanah longsor, gempa bumi, wabah penyakit, dan lain sebagainya, yang setiap hari menghiasi lembaran-lembaran berita bangsa ini.
Dan tentunya, kita sebagai seorang muslim yakin, bahwa krisis multidemensi serta beragam musibah yang mendera dunia dan khususnya bangsa ini, merupakan buah dari perbuatan tangan manusia–manusia yang jauh dari syariat Ilahi. Praktek sistem ekonomi riba, kekufuran, kemaksiatan, dan dosa-dosa lainnya, seluruhnya akan mendatangkan murka dan azab dari Allah Swt.
Demikian pula, kelemahan iman dan jauhnya kaum muslimin dari syariat agama Allah begitu sangat nyata. Kaum muslimin telah lama terlena oleh kehidupan dunia, meninggalkan tugas dan kewajiban agamanya, tenggelam dalam aturan-aturan buatan manusia yang hakikatnya adalah penentangan terhadap syariat Allah subhanahu wa ta'ala. Serta terpedaya oleh gelombang arus pemikiran dan paham sesat yang menggerogoti ajaran agama yang murni ini dari dalam.
Semoga Allah menjaga kita dari tipuan dan godaan syaithan dan para pengikutnya yang mencoba untuk menciptakan pemikiran-pemikiran sesat yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam atas nama keberagaman, tapi pada hakekatnya merupakan upaya menikam dan menghancurkan Islam dari dalam.
.
AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Kaum Muslimin yang dikasihi Allah,
Semangat ber-qurban, juga menjadi semangat pembebasan dari belenggu harta dan materi.
Benar, bahwa harta dan materi perlu dan sebagai penunjang kehidupan kita. Namun, jangan sampai harta dan materi itu menguasai hati dan qalbu kita. Harta dan materi seharusnya tergenggam pada tangan kita, dan bukannya mencengkram dan menguasai hati kita.
Ketahuilah, wahai kaum Muslimin yang berbahagia, bahwa harta sesungguhnya yang kita miliki adalah yang kita ”korbankan” di jalan Allah.
Di berbagai sisi perjuangan Islam ini, masih terdapat peluang bagi para pejuang untuk berinfak, memberi sebagian dari apa yang Allah karuniakan pada mereka. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT menjelaskan.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian megetahuinya.” (QS. Ash Shaf: 10-11)
Semangat inilah yang menggelora pada jiwa para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Sehingga jika mereka tidak memiliki harta untuk disumbangkan dalam jihad menegakkan dienullah, mereka bersedih hati.

تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“… mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang bisa mereka infakkan.’’ (QS. At Taubah: 92)

AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Hadirin Jemaah Idul Adha Yang Dirahmati Allah

Ternyata, ”memberi’’ dan ”berinfak” bukan hanya dengan harta. Namun menginfakkan hati kita, dengan membuka pintu maaf bagi sesama kaum muslimin, adalah pemberian yang luar biasa.
Abu Bakar Ash Shiddiq Radhilallahu ’Anhu, menjadi teladan dalam perkara yang tidak mudah ini. Ketika seorang kerabatnya yang selama ini selalu dibantunya, ternyata, ketika angin fitnah berhembus menimpa anak yang sangat dikasihinya, Aisyah Rahdiallahu ’Anha, justru kerabat tersebut terlibat menyebarkan berita dusta dan fitnah itu. Respon manusiawi Abu Bakar Radhilallahu ’Anhu, adalah dengan menghentikan bantuannya.
Pada saat untaian ayat-ayat Al Qur’an pada Surah An Nur turun, yang dengan tegas membersihkan nama Aisyah Radhiallahu ’Anha dari fitnah yang keji itu, Allah pun mengiringinya dengan ajakan untuk memaafkan dan melanjutkan bantuan yang sempat terputus itu,

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’’ (QS. An Nur: 22)
Mendengar ayat ini, serta merta Abu Bakar berkata, ”Bahkan kami mau demi Engkau, ya Allah, agar Engkau mengampuni kami.”
Kemudian beliau bukan hanya memaafkan orang tersebut, bahkan beliau melanjutkan bantuan yang sempat terputus itu. Alangkah mulianya seorang Abu Bakar yang mengumpulkan antara kelapangan dada dan kedermawanan.
AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Umat Islam yang berbahagia, Dan secara khusus, kaum Muslimah yang dirahmati Allah,
Jangan sampai Anda menjadi korban pemikiran dan akhlak yang menyimpang atau menjadi korban ”mode”. Anda wahai para Muslimah jangan sampai terperosok dalam lembah kehinaan itu.
Jadilah seorang yang shalihah, mitra kaum pria menggapai ridha Allah, menjadi pendidik generasi pelopor dalam perjuangan Islam ini. Jadikan rumah Anda sebagai kandang singa-singa Allah yang selalu siap menerkam musuh. Dari tangan Anda yang halus namun tegar, kita berharap lahir generasi muda yang kuat fisik dan pemikirannya yang dapat membela Agama, bangsa dan negara yang kita cintai ini.
Dan kepada Anda wahai para Pemuda, harapan dan cita-cita kami. Masa paling berharga dari kehidupan sedang Anda nikmati. Maka nikmatilah ia dengan iman dan perjuangan menegakkannya. Jadilah seperti Ismail ‘Alaihis Salam yang selalu siap berkorban di jalan Tuhannya, walaupun nyawa adalah taruhannya.
Wahai para pemimipin negeri yang sangat luas ini, yang jarak antara ujung timur dan baratnya sama dengan jarak antara kota London dan teluk arab, takutlah kepada Allah akan pertanggungjawaban dua ratus juta lebih manusia yang ada di bawah kepemimpinan Anda. Korbankanlah ego dan ambisi pribadi Anda demi kemaslahatan rakyat. Jangan justru mengorbankan rakyat untuk memenuhi ego dan ambisi pribadi Anda.
Tidak ada kemaslahatan yang lebih berarti bagi bangsa ini dan seluruh manusia melainkan ketika mereka kembali kepada Allah ‘Azza Wajalla dan dengan ikhlas menjalankan ajaran-Nya pada seluruh sisi kehidupan.

AllahuAkbar 3 x Walillahilhamd.
Kaum muslimin yang berbahagia,
Sepulang kita ke rumah masing-masing, barangsiapa melakukan ibadah qurban hendaknya memperhatikan petunjuk-petunjuk syariat dalam pelaksanannya. Umur kambing yang disembelih minimal satu tahun. Adapun sapi, minimal dua tahun. Yang mana hewan korban tersebut tidak cacat. Semoga Allah menerima ibadah qurban kita sehingga semakin dekatlah kita kepada-Nya.
Akhirnya, marilah dengan penuh keikhlasan kita menunduk di hadapan Allah ‘Azza Wajalla untuk memohon dan meminta segala kebaikan, di dunia maupun di akhirat kelak.
Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau. Engkau telah meciptakan kami dan kami adalah hamba-hamba-Mu yang selalu berada dalam perjanjian dengan-Mu semaksimal kemampuan kami.
Kami berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan kami.
Kami akui segala nikmat yang Engkau telah keruniakan kepada kami, dan kami akui pula segala dosa kami kepada-Mu. Maka ampunilah kami, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa melainkan Engkau.
Ya Allah, kami menghadap kepada-Mu dengan segala dosa dan kehinaan kami, dan Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia. Maka ampunilah kami dan muliakanlah kami, di dunia dan di akhirat.
Ya Allah, Tuhan dari hamba-hamba-Mu yang tertindas, Engkau lebih tahu penderitaan hamba-hamba-Mu yang beriman. Terimalah ya Allah, segala penderitaan itu sebagai pengorbanan di jalan-Mu.
Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu pada negeri ini. Curahkanlah petunjuk dan hidayah-Mu untuk para pemimpin-pemimpin negeri ini, Ya Allah. Agar mereka dapat berlaku adil dan sayang pada kami. Sesungguhnya tidak ada tempat untuk mengeluhkan masalah kami kecuali pada-Mu. Ya Allah, jangan biarkan negeri ini terjajah oleh siapapun yang memusuhi-Mu.

Selanjutnya dengan penuh harapan, mari kita mohon juga pertolongan, bimbingan dan rahmat-Nya, agar kita semua mendapatkan petunjuk dari Allah swt dalam mempertahankan predikat sebagai orang-orang yang bertaqwa.
Demikianlah penyampaian khutbah shalat Idul Adha ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin....Amin ya rabbal ‘alamin. ( dikutip dari berbagai sumber)

Posting Komentar


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and House Design