oleh : Asrul Nasution, S.Pd (Mantan Kabid Litbang Hmi FBS Unimed dan Pengurus HMI Cabang Medan)
Berbicara mengenai Hmi mungkin tidak akan pernah ada kata selesai. Pasang surut perjuangan para aktivis Hmi dalam melakukan perubahan kondisi kebangsaan, kepemudaan dan ke-islaman. mungkin tidak akan dapat dilukiskan dengan kata-kata. Banyak sudah yang telah dilakukan aktivis Hmi dalam mengisi rongga-rongga sejarah kebangsaan. Dibilik-bilik rezim otoritarianisme kader-kader Hmi mencoba untuk mendongkrak dan memberangus semua itu, lewat berbagai aksi intelektual, Hmi mencoba mengedepankan cara-cara yang santun dalam berdemokrasi, bahwa sesungguhnya, demokrasi adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan kekinian sehingga rezim otoritarianisme sesungguhnya adalah bentuk lain dar sebuah penjajahan structural yang harus diberangus.
Oleh karena itulah, Hmi dengan segenap idealismenya sangat antipati terhadap rezim yang senantiasa mempertahankan status quo dalam melaksanakan pemerintahan. Status quo dengan berbagai bentuk dan polanya adalah penjajahan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, demokratisasi, dan humanisme. Rezim orde baru yang dipimpin oleh Soeharto adalah salah satu bentuk rezim otoritarianisme yang sangat mempertahankan status quo dan hal ini jelas berlawanan dengan perjuangan Hmi. Terbutki perlawanan kader-kader Hmi tidak hanya sebatas dialektika intelektulisme, namun turut dalam berbagai aksi-aksi mentuntut kemunduran Soeharto di tahun 1998. Walaupun sati sisi Hmi menuntut mundurnya Soeharto namun, disisi yang lain pada prinsipnya yang hendak disuarakan oleh Hmi adalah segala bentuk rezim otoriarianisme harus diberangus dibumi persada nusantara ini.
Kalaupun hendak dilukiskan dengan kata-kata mungkin tidak akan pernah ada kata selesai untuk berbicara mengenai perjuangan kader-kader Hmi dalam memberikan konstribusi terhadap perjuangan di negara ini. Ataupun kalau harus dituliskan mungkin seluruh kertas dinegara ini tidak akan muat untuk mencatat betapa banyak sudah yang telah diwariskan oleh Hmi dalam mendesain karakter pemikiran cerdas anak-anak muda dinegeri ini. Kedekatan Hmi dengan Intelectual discourses menjadikannya sebagai lokomotif pembaharuan dan pemikiran. Tidak heran jika banyak pemikir kontemporer menyebut bahwa pemikiran yang disuarakan Hmi adalah kelanjutan dari pemikiran para pemikir kontemporer semisal Arkoun ataupun Aljabiri. Dalam konteks ini lah Hmi semakin dieluk-delukan sebagai organisasi moderat, organisasi yang lahir dari rahim anak-anak muda cerdas karena dibina dilingkungan intelektual. Munculnya Nur Kholis Madjid (Cak Nur) yang notabene kader Hmi (mantan ketua umum PB Hmi 2 periode) lewat karya-karya moderatnya menjadikan Hmi semakin dekat dengan pemikiran inklusifitas. Pemahaman yang tidak rigid dan jumud ini lah yang kemudian mengkristal di tubuh Hmi sehingga menjadikannya pelopor pergerakan pembaharuan di Indonesia.
Sehingga tidak pelak berbicara persoalan pembaharuan di Indonesia maka Hmi tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Jujur harus dikatakan disatu sisi Hmi tercap dengan inklusifitasnya namun disisi yang lain banyak juga kader-kader Hmi yang cukup ekslusif baik dari segi pemikiran dan pergeraknnya. Perbedaan friksi yang terjadi di tubuh Hmi ini bukanlah hal yang baru, jauh-jauh hari hadirnya Hmi MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) yang merupakan hasil dari perpecahan Hmi menjadi dua yaitu Hmi DIPO dan Hmi MPO merupakan satu bentuk bahwa ternayata Hmi tidak satu warna. Bisa dibayangkan hanya perbedaan azas Islam dan pancasila saja Hmi yang sebegitu besar dan terpecah menjadi dua kubu dan sampai hari ini kelihatan tidak ada kata ishlah dari kedua kubu ini.
Munculnya Hmi MPO yang cukup progresif, terkesan militan dan fundamentalis merupakan warna lain dari friksi yang ada ditubuh Hmi. Dan saya berpikir disitulah menariknya Hmi. Coba bayangkan organisasi ini munculnya ditengah -tengah mahasiswa yang idealis yang menginginkan perubahan, dari seorang Lafran Pane, dkk di STAIN Yojakarta Hmi didirikan, ditengah kondisi kebangsaan yang tidak kondusif, pemikiran masyarakat yang rigid dan jumud ditambah lagi kondisi sosial dan ekonomis yang berwajah kapitalis. Kader-kader Hmi lahir dari sebuah sistem yang sangat kacau. Naumun coba kita lihat, kader-kaer Hmi mampu untuk hidup dan eksis ditengah kehidupan seperti itu. Bukan saja hidup namun Hmi mampu memberikan kehidupan baru ditengah-tengah Mahasiswa, masyarakat, Bangsa dan Negara.
Hmi lahir tidak dibeking oleh organisasi tertentu, tidak pemerintah tertentu, tidak pula underbow salah satu parpol besar, tidak pula satu harakah ataupun lazanah yang lain. Hmi piur lahir dari dari sebuah keberanian anak-anak muda menyuarkan kebenaran, dari sebuah ketulusan memperjuangan idealisme dan itulah makanya dalam setiap kesempatan Hmi senantiasa menyuarkan independensi etis dalam setiap aski-asksinya. Dan inilah yang membedakan Hmi dengan organisasi Mahasiswa yang lain.
Mungkin itulah yang menyebabkan Hmi terus eksis sampai hari ini, walaupun harus dikatakan bahwa Hmi yang sudah semakin tua 63 tahun sudah perjalanan Hmi setara dengan kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa ini. Dan juga harus jujur dikatakan banyak sudah yang berubah dengan Hmi hari ini, lihatlah betapa Hmi semakin tidak menarik lagi dimata kawan-kawan Mahasiswa, semakin bubarnya Hmi dikampus-kampus ternama semakin menjadikan Hmi miskin Sumber Daya berkualitas, walaupun semakin marak dikampus-kampus swasta. Namun ini merupakan pukulan berat bagi seluruh kader-kader Hmi dimana saja. Orientasi perjuangan yang semakin tidak jelas menjadikan Hmi semakin jauh ditinggalkan oleh organisasi eksternal lain semisal KAMMI atapun organsiasi yang menamakan diri mereka LDK (Lembaga Dakwah Kampus), ketidak jelasan orientasi perjuangan inilah yang menjadikan kader-kader Hmi semakin gamang dalam melakukan aksi-askinya.
Komisariat yang seharusnya dijadikan sebagai tempat rekrutmen anggota tidak berjalan dengan baik, aktifitas komisariat hanya sebatas pada melaksanakan program-program kerja yang sudah usang, sehingga yang terjadi adalah timbulnya kejenuhan, kader-kader baru ditingkat akar rumput. Kejenuhan semakin diperparah dengan kelakukan beberapa senioren ataupun alumni yang menarik satu persatu kader-kader Hmi pengurus dalam lingkup politik paraktis. Inilah yang menyebabkan Hmi Komisariat tidak lagi mensuplai kader-kader berkualitas. Hal ini semakin diperparah dengan kondisis Cabang Hmi yang semakin tidak jelas proses pembinaannya. Cabang Hmi yang seyogianya menjadi tempat perkaderan berubah fungsi menjadi tempat kongkow-kongkow kader-kader Hmi.
Untuk itulah sudah saatnya kader-kader Hmi semakin menyadari semua ini. Menyadari kesalahan dan kemuduran Hmi selama ini dengan menyalahkan sistem yang ada juga tidak arif dikarenakan betapa banyak hal tentu yang harus dirubah. Yang terbaik adalah memulai perubahan itu dari sekarang, kader-kader Hmi harus melakukan otokritik secara menyeluruh terhadap kerja-kerja dimulai dari tingkat komisariat, Cabang sampai PB HMI, kader-kader Hmi harus menyadari bahwa tugas berat ini tidak semata-mata demi eksistensi Hmi namun juga demi cita-cita mulia seluruh Pahlawan Hmi yang telah gugur dalam memperjuangkan mission Hmi. Terwujudnya masyarakat yang adil dan makrmur yang tetap diridhai Allah SWt.
Amin-amin ya rabbal Alamin
Gunungsitoli Nias, 11 Juli 2008
Bahagialah Hmi
Jayalah Hmi
Yakin Usaha Sampai
Assalamualakum Wr. Wbr
HMI : IN MEMORIAM ( Sebuah catatan kecil mengenang perjuangan para Aktivis HMI)
Diposting oleh depagnias di 05.06
HMI : IN MEMORIAM ( Sebuah catatan kecil mengenang perjuangan para Aktivis HMI)
2008-08-11T05:06:00-07:00
depagnias
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Posting Komentar