Keping Sejarah Nias

Nias Sebelum Datangnya Agama

Kepercayaan asli orang Nias sebelum masuknya agama adalah kepercayaan animisme dan dinamisme, serta kepercayaan terhadap adanya dewa besar yang merajai dewa-dewa yang lain. Menurut kepercayaan di Nias pada masa itu, seseorang yang meninggal rohnya tetap hidup dan bertempat tinggal dimana-mana. Roh tersebut dapat mendatangkan sakit kepada manusia. Untuk menjauhkan diri dari hal itu, seorang dukun (Ere) melepas seekor ayam putih yang masih hidup di bawah pohon, pecahan periuk diletakkan dibawahnya agar roh yang ada di pohon (saho, bela) menjauhkan mereka dari mala petaka.

Pada masa dulu ada juga kebiasaan yang terdapat pada sebagian masyarakat Nias yaitu memenggal kepala orang. Memotong kepala orang dalam kepercayaan di Nias mempunyai dua pengertian:

Pengertian dinamisme; pemenggalan dilakukan untuk menambah kekuatan gaib bagi orang yang melakukannya, kepala yang di potong ini digantungkan pada dinding di samping bagian tirisan atap rumahnya.
Pengertian animisme; kepala yang dipenggal diletakkan di samping kuburan seorang Tuhenori, Salawa atau Balugu sebagai pendampingnya di dunia arwah.
Mereka juga menyembah berhala yang disebut ADU yang terbuat dari kayu. Yang paling ditakuti dan dihormati adalah arwah nenek moyang. Apabila seorang orang tua meninggal setelah berselang beberapa lama, si anak membuat tiruannya berupa patung dari kayuPatung tersebut disimpan di rumah. Patung tersebut disebut Adu Zatua yang dipercaya bisa mendatangkan bala, oleh karenanya sangat ditakuti dan dipuja.

Adapun setelah agama Kristen masuk istilah Lowalangi diartikan sebagai Tuhan. Istilah ini sebenarnya sudah ada sebelum agama masuk. Lowalangi sebenarnya nama salah seorang dewa dalam kepercayaan orang Nias pada masa lalu. Dewa ini tidak merusak atau merugikan, tapi hanya mengawasi dan juga membantu manusia. Oleh karena itu dewa Lowalangi ini tidak begitu ditakuti.

Kronologi Masuknya Islam di Nias

Sebagaimana kedatangan Islam di Nusantara, Islam masuk ke P.Nias bukan melalui misi khusus untuk menyebarkan agama, melainkan dibawa oleh para pendatang ke P.Nias baik yang berdagang maupun yang menetap disana.

Meskipun Islam telah terlebih dahulu masuk ke P.Nias, namun pada perkembanganya tidak sepesat agama Kristen yang disebarkan dalam misi khusus oleh para misionaris.

Umumnya masyarakat asli Nias yang masuk Islam adalah karena kesadaran sendiri atau karena ikatan perkawinan dengan para pendatang yang beragama Islam.
Menurut hemat kami, ada beberapa faktor kemungkinan kurang pesatnya Islam berkembang di Nias pada masa itu, antara lain:

Para pendatang ini memang bukan datang untuk menyebarkan agama.
Kemungkinan karena mereka telah menjalin hubungan yang baik dengan para penguasa setempat, mereka memilih untuk tetap memelihara hubungan baik yang telah terjalin tanpa mengintervensi adat dan kepercayaan penduduk setempat. Apalagi setelah adanya kesepakatan/ pemberian wilayah kekuasaan bagi para pendatang dengan penguasa setempat.
Kondisi alam yang pada waktu itu masih berupa hutan rimba sehingga membuat akses yang sulit ke pedalaman dan pegunungan dimana kebanyakan penduduk asli tinggal.
Masyarakat setempat yang biasa beternak babi membuat para pendatang beragama Islam sulit berasimilasi dengan penduduk asli. Hanya penduduk asli yang datang ke perkampungan ummat Islam dan berinteraksi cukup intens dengan para pendatang saja yang akhirnya masuk Islam.
Ternak babi bagi masyarakat Nias merupakan ternak utama untuk upacara-upacara adat, sehingga sangat wajar jika mereka sulit menerima kepercayaan baru yang mengharamkannya.
Secara kronologis masuknya Islam ke pulau Nias dapat diurutkan sebagai berikut:

Tahun 858 M. seorang Persia bernama Sulaiman pernah menyinggahi pulau Nias yang dinamakannya denga Pulau Nian. Hal ini telah disebutkan oleh E. Fries dalam bukunya Amoeata Hoelo Nono Niha hal 53. Sayangnya tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini.
Tahun 1624 M. Nias masuk menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (berkuasa dari tahun 1607 s/d 1635).
Pada tahun 1642(?)/1080 H. orang Aceh di bawah pimpinan Teuku Polem dari Meulaboh tiba di Nias, yang kemudian menetap di kampung Hele Duna Siwulu (sekitar Desa Mudik sekarang).Keterangan ini diperkuat dalam buku Encyclopedia Van Nederndsch Cost Indie III cetakan kedua, keluarang Martinus Nijhoffe Gravenhage tahun 1915 dalan halaman kedua memuat keterangan seorang Belanda bernama Davidson tentang apa yang dilihatnya sewaktu dia pada tahun 1665 mengelilingi pulau Nias, bahwa orang Melayu terutama Aceh bergaul dengan suku-suku Nias dan bahwa agama yang dibawanya Islam. Islam berpengaruh atas lembaga kebudayaan kerohanian asli orang Nias.
Pada tahun 1111 H. atau sekitar tahun 1690 M. seorang Minangkabau bernama Datuk Raja Ahmad suku Chaniago asal negeri Priangan Padang Panjang telah sampai di Nias, sekitar Teluk Baliku kira-kira 12 Km utara kota Gunungsitoli dan tinggal menetap di Kampung Dalam (sekitar perbatasan Desa Mudik dan Kelurah Ilir sekarang).
Sekitar tahun 1215 H atau 1794 M dibawah pimpinan Haji Daeng Hafiz (orang Bugis) tinggal dan menetap di Gunungsitoli.
Sekitar tahun 1810 M. orang Arab di bawah pimpinan Said Abdullah dari Kotaraja Banda Aceh sampai dan menetap di Gunungsitoli.
Sekitar tahun 1863 M. orang India dibawah pimpinan Mustan Sahib tiba dari Meulaboh dan menetap di Gunungsitoli, setelah sebelumnya tinggal di Singkil.
Sumber tulisan:
Drs. Suady Husin: Suatu Tinjauan Tentang Ada Perkawinan dan Warisan Pada Masyarakat Islam di Nias Pesisir, Fakultas Ilmu Sosial IKIP Medan Tahun 1976.

Posting Komentar


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and House Design