Surabaya, 25/8 (Pinmas)--Menteri Agama, Muhammad Maftuh Basyuni mengatakan, pendidikan di pesantren masih dikonotasikan dengan ketertinggalan, padahal banyak lembaga pendidikan swasta tersebut kondisinya maju dengan ciri khas salafiyah berorientasi tafaqquh fiddin.
Pendapat yang menyebut pesantren demikian adalah keliru, kata Maftuh ketika tampil sebagai pembicara pada peresmian Islamic International School Sabilil Muttaqin di Surabaya, Senin (25/8).
Hadir pada acara tersebut para pengusaha dari Singapura, Meneg Kominfo Moh Nuh, ulam dan pimpinan Jawa Pos Grup Dahlan Ikhsan yang juga selaku perintis pendiri lembaga tersebut.
Bangsa Indonesia, katanya, saat ini tengah bekerja keras meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing, karena harus disadari bahwa dalam aspek intelektual, moral dan spiritual masih perlu ditingkatkan.
Dengan populasi penduduk yang besar, daya saing bangsa Indonesia masih rendah, baik regional maupun global. Depag, katanya, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki, melalui programnya telah berhasil meningkatkan mutu guru melalui kualifikasi akademik dan sertifikasi profesi.
Kerja sama dengan lembagapemerintah daerah, negara dan institusi internasional terus ditingkatkan. Pendirian madrasah internasional kini tengah dirintis Depag bekerja sama dengan Pemda di seluruh tanah air, katanya.
Karena itulah Menag memberi apresiasi tinggi kepada masyarakat yang memberi kontribusi dalam penyediaan layanan pendidikan untuk mencerdaskan bangsa dan peningkatan kualitas hidup umat.
Pendirian lembaga pendidikan bertaraf internasional seperti Pesantren Sabilil Muttaqin dengan kemitraan madrasah dari luar negeri, Madrasah Al Irsyad Singapura memungkinkan terjadinya transfer keterampilan manajemen dan teknologi pendidikan, katanya.
Yang lebih penting lagi menumbuhkan wawasan global bagi sivitas akademika. "Act locally, think globally," kata Menag.
Adanya kemitraan dengan luar negeri juga bisa menjadi "Benchmark" dalam mewujudkan pendidikan berkualitas bertaraf internasioan. Tentu saja kerja sama ini mempererat persahabatan dan saling pengertian antar kedua bangsa, Indonesia dan Singapura, ia mengatakan.
Ia menegaskan pula, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, wajar jika Indonesia juga mempunyai pusat kajian Islam. Dengan adanya pendidikan Islam internasional, memungkinkan adanya interaksi antar bangsa dan jejaring internasional yang dapat mendiseminasi citra Islam yang ramah, damai dan sekaligus rahmatan lil alamin di seluruh dunia.(es/ts)
Menag: Keliru Kalau Ponpes Masih Dikonotasikan Tertinggal
Diposting oleh depagnias di 18.45
Menag: Keliru Kalau Ponpes Masih Dikonotasikan Tertinggal
2008-08-25T18:45:00-07:00
depagnias
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Posting Komentar