Teuku Polem

Suatu ringkasan dari tulisan M. Idlim Polem: “Sejarah Kedatangan Teuku Polem di Gunungsitoli Pulau Nias”
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, wilayah kesultanan Aceh di bagi dalam beberapa sub wilayah pemerintahan. Wilayah bagian Barat saat itu berkedudukan di Preumbeue Meulaboh dan sebagai kepala pemerintahannya adalah Teuku Cik dari Meuraksa Kutaraja (Banda Aceh) Mukim XXVI.

Teuku Cik mempunyai 2 putra dan 1 putri, yaitu: Teuku Polem, Teuku Imeum Balo dan Siti Zalikha. Teuku Polem sebagai anak tertua diangkat menjadi pembantu ayahnya di bidang keamanan sedangkan Teuku Imeum Balo ditugaskan di bidang keagamaan. Teuku Polem sering memimpin langsung operasi pengamanan sepanjang pantai barat hingga ke Natal yang sering diganggu oleh perampok dan bajak laut.

Suatu ketika saat memimpin operasi dan kembali ke Tapak Tuan, Teuku Polem mendapat kabar duka bahwa ayahandanya telah wafat, dan berhubung Teuku Polem tidak berada di Meuloboh maka adiknya Teuku Imeum Balo diangkat sebagai pejabat sementara. Namun sekembalinya Teuku Polem di Meulaboh, beliau menolak diangkat menjadi pengganti ayahandanya dan menyerahkan tampuk pemerintah kepada adiknya yang telah diangkat menjadi pejabat sementara.
Teuku Polem justru melanjutkan tugasnya sebagai pemimpin keamanan. Kira-kira tahun 1642 M. Teuku Polem meninggalkan Meulaboh dengan 5 armada (Pincalang/ Kapal Layar) dan memutuskan hijrah dari Meulaboh dan bertekad bulat dimana menjumpai daratan maka disitulah tanah tumpah darahnya serta anak cucunya.
Armada ini akhirnya tiba di Pulau Nias dan berlabuh persisi sekitar Luaha Laraga Idanoi. Setelah menyusuri Luaha Laraga hingga ke hulu, rombongan Teuku Polem bertemu dan diterima dengan baik oleh penguasa daerah tersebut, yaitu Balugu Harimo. Daerah kekusaan Balugu Harimo ini bernama Onozitoli Laraga. Balugu Harimo mempunyai 3 orang putra dan 1 orang putri, yaitu:
1. Balugu Mangaraja Fagowa Harefa
2. Balugu Kaowa Kahemanu Harefa
3. Kahomo Harefa
4. Bowoanaa Harefa
Setahun setelah bermukim di Onozitoli Laraga, Teuku Polem menikahi putri Balugu Harimo; Bowoanaa Harefa. Sehingga putrinya ini resmi menjadi Istri Teuku Polem dan memeluk agama Islam. Saat itu kepercayaan yang dianut masyarakat Nias masih animisme dan dinamisme.
Setelah Bowoanaa memeluk Islam, keponakannya (anak dari Mangaraja Fagowa Harefa) yang bernama si Acah Harefa memeluk Islam. Keturunannya hingga saat ini adalah penduduk kampung Miga Oritabaloho Dahana Kecamatan Gunungsitoli.
Keturunan dari Kahomo Harefa juga mengikuti jejak yang sama dan keturunannya sekarang sebagian tinggal di Desa Mudik Kec. Gunungsitoli dan sebagain di Sifahandro Kec. Tuhemberua.
Sedangkan keturunan dari Balugi Kaowa Kahemanu Harefa kebanyakan memeluk agama Kristen Protestan dan keturunannya berdomisili di Lasara Hili Oritabloho Dahana, namun sebagian ada yang memeluk Islam dan selanjutnya berdomisili di Desa Mudik dan Sifahandro.
Pada tahun 1644 Balugu Harimo beserta keluarganya juga Teuku Polem pindah dari Onozitoli Laraga ke arah lembah sebuah sungai (Kali Nou) tepatnya di Dahana. Di daerah ini sebelumnya telah bermukim saudara Balugu Harimo yaitu Tua Laowo. Selanjutnya pada tahun yang sama, anak-anaknya Balugu Kaowa Kahemanu dan Kahomo pindah dari Dahana ke Lasara. Sedangkan Teuku Polem sekeluarga pindah ke Siwulu atau Geri’i (atua si lo niha/ hutan tak berpenghuni), yang sekarang ini adalah wilayah Desa Mudik.
Selama bermukim di Siwulu, Teuku Polem dan istrinya Bowoanaa Harefa dianugrahi seorang Putra bernama Simeugang (lahir 1653) dan Siti Zohora (lahir tahun 1654). Selanjutnya beberepa kerabat Teuku Polem ada yang kembali ke Aceh dan ada juga yang menuju arah Selatan dan Utara Pulau Nias dan membuka pemukiman baru. Sejak itu lambat laun mulailah ramai berdatangan pedagang-pedagang dari Aceh, Natal dan Sumatera Barat.
Selama kurang lebih 11 tahun bermukim di Siwulu, Teuku Polem selanjutnya berpindah lagi ke dekat Heleduna pada tahun 1655, dan sebagian kerabatnya ada yang memilih menetap di Siwulu/ Geri’i. Kemungkinan besar Heleduna dibuka sebagai pemukiman baru, karena disitu terdapat sumber mata air yang lebih besar dan lokasinya juga tidak terlalu jauh dengan pemukiman saudara-saudara iparnya di Lasara.
Pada tahun 1674 datang serombongan utusan Teuku Imeum Balo (adik Teuku Polem) dari Meulaboh untuk meminta Teuku Polem kembali ke Aceh, namun karena sudah bertekad bulat menetap di Pulau Nias, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi Teuku Polem. Pada tahun 1675 kembali datang utusan dengan maksud yang sama. Untuk tidak mengecewakan adiknya, Teuku Polem mengutus anaknya Simeugang sebagai penggantinya (pada saat itu telah berusia 22 tahun) disertai keponakannya si Acah Harefa (anak dari Balugu Mangaraja Fagowa). Mereka mereka belajar tentang agama Islam di Meulaboh selama 14 tahun.
Pada tahun 1690 M. Siti Zohora dikawinkan dengan Datuk Ahmad, seorang bangsawan yang datang dari Padang Pariaman. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra.
Setelah melahirkan putra pertama mereka, Datuk Raja Ahmad diminta oleh istrinya Siti Zohora dan mertuanya Teuku Polem untuk menjemput kakak iparnya Simeugang dan si Acah ke Meulaboh.
Teuku Simeugang dan Si Acah akhirnya pulang kembali ke Nias dengan membawa beberapa tanda mata peninggalan kakeknya Teuku Cik berupa persenjataan dan meriam, Badi Suasa, Cerana Perak dan barang-barang berharga lainnya.
Dua pucuk meriam tersebut masih ada hingga kini, satu berada di halaman masjid Jami’ Desa Mudik dan satu lagi berada di depan rumah dinas Bupati Nias. Dulunya kedua meriam tersebut berada di Desa Mudik, namun pada masa pemerintahan Belanda, oleh asisten Resident Nias atas seizin cucu-cucu Teuku Polem diambil dan diletakkan di depan kediaman Asisten Resident Nias, yang kini jadi rumah dinas Bupati Nias.
Teuku Polem wafat kira-kira tahun 1698 M. dan atas kesepakatan Teuku Simeugang dengan pihak paman dan iparnya, Teuku Polem dikebumikan ditempat yang jaraknya sama jauhnya dari rumah Teuku Simeugang dengan rumah adiknya Siti Zohora istri Datuk Raja Ahmad.

Posting Komentar


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and House Design